Senin, 13 Februari 2012

Timphan (opening)

Saya rasa ga ada satu orang Aceh pun yang ga kenal sama yang namanya timphan. Hah? kamu ga tau? di ragukan nih ke-Aceh-an nya (>_<)

Ya! timphan adalah salah satu makanan tradisional rakyat Aceh yang dibuat dari buah pisang, di remas-remas dengan tangan dalam tepung ketan hingga menjadi adonan lalu di masukkan bahan pengisi yang manis-manis [selai serikaya, kelapa, nangka, dll] sebelum di bungkus kenbali dengan daun pisang sebelum di kukus hingga matang. Ntar jadi nya seperti ini kira-kira:



Tapi saya saat ini di posting ini bukan mau membahas bagaimana cara membuat timphan yang nikmat, toh nenek-nenek kita di kampung super duper jago membuatnya yang bikin kita kangen kalo lama ga pulang [ Yah...mudah-mudahan saja yang di kangenin bukan cuma timphan nya nenek, tapi nenek nya juga di kangenin, hohoho]. Yang ingin saya sampaikan adalah...

"Masih adakah rasa tanggung jawab kita sebagai rakyat Aceh dalam melestarikan budaya kita sendiri?"

Kaum-kaum pemuda kita lambat laun mulai tercemar oleh rasa inferioritas [red: rendah diri], merasa malu dengan kebudayaan sendiri dengan alasan...

"Tidak Elit"

"Tidak modern"

"Tidak Elegan"

dan...

"KAMPUNGAN!!"


Kasihan ya, pemuda-pemuda dan orang-orang tua yang telah terpatri otak nya dengan pemikiran-pemikiran semacam itu tidak menyadari betapa besar potensi daerah yang telah di sia-siakannya....potensi budaya. Padahal, salah satu daya tarik dari suatu bangsa adalah "ciri khas kedaerahannya".

[to be continue....]